Mengetuk Pintu Langit: Doa Bersama Menjelang TKA dan TKAD SMPIT Abu Bakar Yogyakarta
Yogyakarta—Langit pagi di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tampak teduh. Cahaya matahari yang lembut menyelinap melalui sela-sela jendela serambi masjid, memantul di lantai, menghadirkan suasana yang tenang sekaligus khidmat. Di tempat inilah, puluhan siswa, guru, dan orang tua berkumpul dalam satu tujuan yang sama: mengetuk langit, memohon kemudahan menjelang Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Tes kemampuan Akademik Daerah (TKAD).
Suasana tidak seperti hari biasa. Tidak ada riuh canda berlebihan, tidak pula langkah tergesa. Yang ada justru wajah-wajah yang dipenuhi harap. Sebagian tampak tegang, sebagian lainnya menunduk dalam diam, merangkai doa dalam hati. Kegiatan doa bersama ini menjadi salah satu ikhtiar spiritual yang dilakukan oleh SMPIT Abu Bakar Yogyakarta dalam menyambut momen penting TKA dan TKAD (4/4). Ustazah Eko Budi Lestari, S.Si, M.Pd., kepala SMPIT Abu Bakar Yogyakarta menyampaikan bahwa doa bersama ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan spiritual. “Kami ingin anak-anak tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga memiliki ketenangan hati. Karena dari hati yang tenang, akan lahir usaha yang maksimal,” ujarnya.
Layar di pelataran masjid perlahan menampilkan rekam jejak perjalanan siswa kelas 3. Fragmen-fragmen sederhana yang selama ini mungkin terlewatkan: tawa di ruang kelas, dinamika kegiatan sekolah, hingga kebersamaan yang dahulu terasa biasa, kini hadir dengan makna yang jauh lebih dalam. Tawa tetap terdengar, namun tidak lagi seutuh biasanya. Ia terselip di antara jeda yang hening, berpadu dengan tatapan yang mulai berkaca-kaca. Setiap adegan seakan menjadi pengingat halus bahwa perjalanan ini telah sampai di penghujungnya. Sebuah fase yang perlahan akan ditinggalkan, meski tak sepenuhnya ingin dilepas.
Usai diselimuti hangatnya kenangan, acara berlanjut pada penyampaian hasil TPM (Tes Pendalaman Materi) TKA dan TKAD sebagai wujud nyata dedikasi dan ketekunan belajar peserta didik. Pada Tahap 1, Rifqy Allamsyah Setyawan, Naveed Sivert Ma’mun, dan Fathan Izzul Haq menunjukkan capaian yang membanggakan. Keberhasilan ini berlanjut pada Tahap 2 melalui Hauzan Abyan ‘Abqory, Yumna Hasna Raasiyah, serta konsistensi Rifqy Allamsyah Setyawan. Memasuki Tahap 3, prestasi semakin menguat dengan kontribusi Hauzan Abyan ‘Abqory, Muhammad Najiy Adib Daoudy, Fathan Izzul Haq, dan kembali Rifqy Allamsyah Setyawan.
Puncaknya, pada tingkat DIY, Mifzal Natha Widhiatna, Ardan Arnas Javaniskara, Naveed Sivert Ma’mun, dan Rifqy Allamsyah Setyawan berhasil mengharumkan nama institusi. Capaian ini menjadi bukti bahwa proses, ketekunan, dan lingkungan belajar yang baik akan melahirkan prestasi yang gemilang, sekaligus menjadi inspirasi untuk terus melangkah dan berkembang.
Tepuk tangan pun mengalun, tidak sekadar sebagai bentuk apresiasi, tetapi juga sebagai peneguhan semangat. Di balik pengumuman itu, tersirat kesadaran bahwa setiap siswa tengah menapaki perjuangannya masing-masing. Bukan semata tentang siapa yang berada di posisi teratas, melainkan tentang bagaimana setiap ikhtiar dihargai dan dimaknai.
Acara dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema syahdu di seluruh penjuru masjid. Bacaan itu seakan menjadi pengantar bagi hati yang gelisah untuk kembali tenang. Para siswa duduk rapi, sebagian memejamkan mata, sebagian lainnya menengadahkan tangan, larut dalam suasana yang penuh kekhusyukan.
Ust. Syatori Abdul Rauf, Lc., dalam tausiyah yang disampaikan, para siswa diingatkan bahwa ujian bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang proses, kejujuran, dan keteguhan hati. Bahwa setiap lembar soal yang akan dihadapi adalah bagian dari perjalanan panjang menuju kedewasaan.
“Belajar adalah ikhtiar kalian, tetapi hasil adalah rahasia Allah,” menjadi pesan yang menggema di antara para peserta.
Momen paling menggetarkan hadir saat doa bersama dipanjatkan. Dipimpin langsung oleh Ust. Syatori Abdul Rauf, suara doa yang lirih namun penuh pengharapan mengalun, diikuti isak tangis yang mulai terdengar di beberapa sudut. Tidak sedikit siswa yang meneteskan air mata—mungkin karena lelahnya perjuangan, mungkin karena takut gagal, atau mungkin karena harapan yang terlalu besar untuk disimpan sendiri.
Di sisi lain, para orang tua yang turut hadir juga tak kuasa menyembunyikan haru. Dalam diam, mereka ikut menadahkan tangan, menitipkan masa depan anak-anak mereka kepada Allah. Di antara mereka, ada yang memejamkan mata lebih lama, seakan ingin memastikan setiap doa benar-benar sampai ke langit.
Menjelang akhir acara, suasana perlahan kembali tenang. Namun, ketenangan itu berbeda. Ia bukan lagi sekadar sunyi, melainkan ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa segala ikhtiar telah dilakukan, dan selebihnya diserahkan kepada Allah.
Langkah-langkah yang meninggalkan masjid hari itu terasa lebih ringan. Bukan karena ujian menjadi mudah, tetapi karena hati telah dikuatkan. Di tempat yang sama, doa-doa telah dilangitkan. Harapan-harapan telah dititipkan. Dan keyakinan telah ditanamkan bahwa setiap usaha yang diiringi doa, tidak akan pernah sia-sia (*Humas ABY).