Merajut Warisan, Menyulam Masa Depan: Proyek Lintas Mapel SMPIT ABY Wujudkan Generasi Kreatif dan Berkarakter

Merajut Warisan, Menyulam Masa Depan: Proyek Lintas Mapel SMPIT ABY Wujudkan Generasi Kreatif dan Berkarakter

Suasana berbeda menyambut siswa-siswi SMPIT Abu Bakar Yogyakarta pada pertengahan September 2025. Bukan hanya rutinitas belajar biasa yang menyambut mereka, melainkan sebuah petualangan belajar yang menggabungkan warisan budaya, keterampilan abad 21, dan nilai-nilai Islami melalui Proyek Lintas Mapel (PLM) yang diselenggarakan untuk siswa kelas 7 dan 8.

Kelas 7: Menyelami Filosofi Batik dari Canting ke Pameran Budaya

Dengan tema “Batik: Mengenal dan Mencintai Budaya Lokal Bernilai Global”, siswa kelas 7 diajak dalam perjalanan holistik selama seminggu penuh (11-19 September 2025) yang memadukan lima mata pelajaran secara harmonis. Proyek ini tidak hanya sekadar teori di kelas, tetapi menghadirkan pengalaman langsung yang tak terlupakan.

“Hari yang paling berkesan adalah ketika kami berkunjung ke Kampung Batik Giriloyo dan Makam Imogiri,” cerita Aisyah, siswa kelas 7F dengan mata berbinar. “Saya tidak menyangka bahwa membatik membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Butuh waktu lama hanya untuk menyelesaikan satu motif kecil.”

Kunjungan pada 18 September 2025 tersebut dirancang secara bergantian antara putra dan putri. Di Giriloyo, mereka belajar langsung dari para pengrajin batik turun-temurun, merasakan panasnya malam dan keahlian menggoreskan canting. Sedangkan di Kompleks Makam Imogiri, mereka menyusuri sejarah panjang Mataram Islam yang melatarbelakangi kelahiran motif-motif batik Yogyakarta.

“Setiap mata pelajaran memberikan kontribusi unik dalam proyek ini,” jelas Ustazah Devi Trianasari, M.Pd., ketua panitia PLM Kelas 7. “Seni Budaya untuk praktik membatik, Bahasa Indonesia untuk teks prosedur, Bahasa Inggris untuk promosi budaya, IPS untuk analisis sejarah, dan PAI untuk refleksi nilai-nilai Islam seperti kesabaran dan syukur.”

Puncak proyek ini adalah “Batik Culture Expo” dimana siswa memamerkan karya batik mereka yang telah diaplikasikan pada tas, poster infografis berbahasa Indonesia, presentasi berbahasa Inggris, site plan Makam Imogiri, serta jurnal refleksi. “Kami tidak hanya belajar tentang batik, tapi juga belajar bekerja sama dalam tim dan berani presentasi,” tambah Farhan dari kelas 7E.

Kelas 8: Mengangkat Martabat Kerajinan Lokal di Era Digital

Sementara itu, siswa kelas 8 menjalani petualangan berbeda dengan tema “Kerajinan Tangan: Warisan Budaya Lokal Bernilai Global” pada 17-19 September 2025. Mereka melakukan kunjungan edukatif ke Desa Wisata Gamplong dan Museum Suharto, menyelami langsung proses pembuatan kerajinan tangan tradisional.

“Yang menarik, siswa tidak hanya observasi, tetapi juga mendokumentasikan seluruh proses melalui foto dan video,” papar Ustazah Anik Retnawati, S.Pd., ketua panitia PLM Kelas 8. “Mereka kemudian mengolahnya menjadi presentasi kreatif menggunakan Canva dan Power Point.”

Proses pembelajaran ini melatih kemampuan digital siswa sekaligus mengasah apresiasi mereka terhadap kerajinan lokal. “Saya baru tahu bahwa kerajinan tangan tradisional bisa sangat bernilai ekonomis dan bahkan go international,” ungkap Bintang dari kelas 8C. “Ini membuka wawasan kami tentang peluang ekonomi kreatif.”

Metode Pembelajaran yang Memberdayakan

Kedua proyek ini mengimplementasikan metode Project-Based Learning (PjBL) yang berpusat pada siswa. Terdapat lima fase yang dilalui: pemantikan (pengenalan tema), riset & perencanaan, aplikasi (kunjungan lapangan), kreasi produk, serta presentasi dan evaluasi.

“Pendekatan ini membuat siswa aktif mencari tahu, bukan sekadar menerima informasi,” tutur Ustaz Anas Sumarhadi, S.Pd.Si., M.Pd., Waka Kurikulum yang menjadi penanggung jawab kegiatan. “Mereka mengalami langsung bagaimana pengetahuan dari berbagai mata pelajaran terintegrasi dalam menyelesaikan masalah nyata.”

Yang membedakan PLM di SMPIT ABY adalah integrasi nilai-nilai Islam dalam setiap proses pembelajaran. Mulai dari niat mencari ilmu, sikap sabar dalam proses, hingga syukur atas karya yang dihasilkan. “Kami ingin siswa tidak hanya smart, tetapi juga memiliki character building yang kuat,” tegas Ustazah Eko Budi Lestari, S.Si., M.Pd. selaku Kepala Sekolah SMPIT Abu Bakar Yogyakarta.

Dampak yang Berkelanjutan

Hasil dari proyek ini tidak berhenti pada pameran semata. Karya-karya siswa akan didokumentasikan dalam portofolio pembelajaran dan menjadi bahan evaluasi pengembangan kurikulum. Bagi banyak siswa, pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam.

“Saya sekarang lebih menghargai proses di balik setiap karya batik. Tidak mudah, butuh ketekunan dan ketelitian,” refleksi Haris dari kelas 7A. “Ini mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.”

Bagi sekolah, keberhasilan PLM ini membuktikan bahwa pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan dapat menumbuhkan kecintaan pada budaya lokal sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi tantangan global. “Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan pembelajaran yang memerdekakan dan memanusiakan,” tutup Ustazah Eko.

Dalam tangan generasi muda yang mencintai warisan budayanya namun melek teknologi inilah, masa depan Indonesia yang berkarakter dan kompetitif dipertaruhkan. Dan SMPIT Abu Bakar Yogyakarta dengan bangga menjadi bagian dari proses penempaan generasi emas tersebut.

SMPIT Abu Bakar Yogyakarta
Membimbing Sepenuh Hati, agar Saleh dan Berprestasi

Add a Comment

Your email address will not be published.