SIMPAN CITA-CITA KE BAITULLAH: MANASIK HAJI KELAS 9 ABY WUJUDKAN PEMBELAJARAN IBADAH YANG HIDUP DAN PENUH MAKNA

SIMPAN CITA-CITA KE BAITULLAH: MANASIK HAJI KELAS 9 ABY WUJUDKAN PEMBELAJARAN IBADAH YANG HIDUP DAN PENUH MAKNA

Suara lantang talbiyah, “Labbaik Allahumma Labbaik…”, menggema di Wisata Edukasi Religi Qolbu Boyolali, Selasa (21/10). Ribuan kilometer dari Tanah Suci, para siswa kelas 9 SMPIT Abu Bakar Yogyakarta justru merasakan nuansa ibadah haji yang begitu hakiki. Dalam kegiatan Manasik Haji yang mengusung tema “Membangun Jiwa dan Raga: Mengaitkan Manasik Haji dengan Pembentukan Karakter yang Beriman, Bertakwa, dan Sehat secara Fisik serta Mental”, mereka tidak hanya belajar tata cara, tetapi lebih jauh: menghayati setiap rukun ibadah dalam kehidupan.

Dengan pakaian ihram putih yang membalut tubuh para siswa putra dan gamis putih serta kerudung putih yang dikenakan siswa putri, suasana kekhusyukan langsung tercipta. Kegiatan yang bersifat wajib dan menjadi bagian dari penilaian PAI ini menjadi simulasi nyata untuk memantaskan diri, jauh sebelum suatu hari nanti mereka benar-benar memijakkan kaki di tanah suci.

Perjalanan Spiritual Dimulai Sejak Dini Hari

Kegiatan diawali dengan pengkondisian dan Bina Ibadah serta Pembiasaan Akhlak (BIPA) di dalam bus masing-masing, mengawali perjalanan dengan barokah. Meski dengan rundown acara yang berbeda antara putra dan putri, semangat dan tujuannya tetap sama: memahami makna setiap ritual suci dalam ibadah haji.

Untuk Siswa Putra, perjalanan langsung menuju Boyolali untuk mempraktikkan secara langsung seluruh rangkaian manasik haji dan umrah. Di bawah bimbingan para pendamping, mereka dengan khidmat mengikuti setiap gerakan, seolah-olah sedang berada di depan Ka’bah. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Masjid Raya Sheikh Zayed Solo untuk menunaikan sholat Dzuhur, beristirahat, dan berfoto. Kemegahan masjid ini menambah kekaguman mereka akan keindahan rumah Allah.

Sementara untuk Siswa Putri, perjalanan spiritual diawali dengan wisata religi ke Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Di sana, mereka melaksanakan sholat Dhuha berjamaah, menikmati keindahan arsitektur masjid, dan mengabadikan momen kebersamaan. Setelahnya, barulah mereka menuju lokasi manasik di Boyolali untuk melaksanakan puncak acara: praktik manasik haji dan umrah dengan penuh konsentrasi dan kekhusyukan.

Lebih Dari Sekedar Simulasi: Menghayati Setiap Lontaran Jumrah dan Thawaf

Setiap detail dipersiapkan dengan matang, termasuk 28 kerikil yang dibawa masing-masing siswa untuk melontar jumrah. Hal kecil ini mengajarkan tentang kedisiplinan dan kesiapan lahir-batin. Dalam balutan pakaian ihram yang sederhana, tidak ada lagi sekat antara mereka. Semua sama di mata Allah, belajar tentang kesetaraan, kerendahan hati, dan ketundukan.

Kegiatan ini bukan hanya tentang menghafal rukun dan wajib haji. Ini adalah proses pembentukan karakter. Melalui simulasi ini, nilai-nilai kesabaran, ketangguhan fisik dan mental, serta kekompakan sebagai satu jamaah tertanam kuat dalam diri setiap peserta.

Pulang Membawa Haji yang Mabrur di Hati

Perjalanan panjang seharian itu ditutup dengan sholat Ashar berjamaah di Masjid ABY bagi putra, sebelum akhirnya mereka pulang ke asrama maupun rumah. Wajah-wajah lelah namun penuh kepuasan terpancar dari setiap siswa. Mereka pulang bukan hanya membawa segunung memori, tetapi juga sebuah cita-cita suci untuk suatu hari nanti dapat menyempurnakan rukun Islam kelima tersebut di Tanah Suci yang sesungguhnya.

Manasik Haji SMPIT ABY tahun ini telah berhasil mencetak memori spiritual yang tak terlupakan. Sebuah persiapan yang tidak hanya untuk ujian praktik di sekolah, tetapi lebih sebagai bekal iman dan takwa untuk menjalani hidup yang penuh dengan rintangan dan ujian, laksana prosesi ibadah haji itu sendiri.

Semoga menjadi Haji yang Mabrur, suatu saat nanti. Aamiin.

Add a Comment

Your email address will not be published.