Diseminasi COP di SMPIT ABY: Sinergi Guru Lintas Sekolah Berinovasi dan Melindungi Anak di Ruang Digital

Diseminasi COP di SMPIT ABY: Sinergi Guru Lintas Sekolah Berinovasi dan Melindungi Anak di Ruang Digital

Yogyakarta — Transformasi ruang digital di dunia pendidikan bukan sekadar urusan teknologi satu sekolah, melainkan panggilan kolaborasi bersama. Di SMPIT Abu Bakar Yogyakarta, para ustaz, ustazah, guru, dan tenaga kependidikan berkumpul dalam gelaran Diseminasi Pembelajaran dan Implementasi Child Online Protection (COP) di Sekolah (03/10).

Suasana basement sekolah pada Sabtu pagi itu terasa hangat dan dinamis. Menariknya, diseminasi ini menjadi wadah bertemunya para pendidik dari berbagai jenjang dan latar belakang sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka hadir membawa misi serupa: memperkuat ekosistem sekolah ramah anak yang adaptif terhadap kecerdasan artifisial sekaligus tangguh menghadapi risiko di dunia maya. Tidak lupa tagline pemberi semangat ”Guru Cakap Digital, Anak Aman dan Cerdas di Ruang Digital”.

Agenda diawali dengan pembukaan oleh Maherlina Muna Ayuhana, M.Pd.I. (SMPN 1 Pleret). Kegiatan yang merupakan bagian dari pengimbasan pelatihan Safe and Smart 2026 disambut hangat oleh Kepala SMPIT Abu Bakar Yogyakarta, Eko Budi Lestari, S.Si., M.Pd., disusul sambutan dari Danny Anggoro Sulistiono, S.S. (SMA Stella Duce 1 Yogyakarta) selaku ketua penyelenggara. Keduanya menegaskan bahwa pendampingan digital berbasis komunikasi dan kepercayaan jauh lebih bermakna dibanding sekadar pembatasan tanpa pemahaman.

Tiga Modul, Tiga Ruang Berbagi Inspirasi Lintas Sekolah

Materi diseminasi terbagi ke dalam tiga sesi modul aplikatif yang dipandu oleh para pemateri dari beragam sekolah:

  • Modul 1: Martini Sugatri, S.Sos. (SMAN 1 Bantul) membuka sesi dengan eksplorasi pembuatan media ajar berbasis Generative AI yang diorientasikan pada penguatan pembelajaran mendalam (deep learning). Teknologi tidak sekadar diposisikan sebagai pemanis visual, melainkan jembatan agar siswa mampu bernalar kritis dan memahami konsep secara bermakna. Para guru diajak menyusun kuis interaktif yang menyenangkan seperti game edukatif 1 Millionaire. Agar instruksi kepada AI menghasilkan konten yang tajam, peserta dilatih menerapkan teknik prompting dengan kerangka RACE (Role, Action, Context, Execute).
  • Modul 2: Nabil Fairuzzabadi, S.Pd. (Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta) membedah realitas kerentanan digital anak lewat metode pohon masalah dan solusi. Berlandaskan Kerangka 4C (Content, Contact, Conduct, Commercial Risk), para pendidik mengurai akar masalah seperti perundungan siber (cyberbullying), penipuan daring, hingga manipulasi privasi, lalu merumuskan tindakan proteksi bertingkat di lingkungan sekolah dan melakukan gallery walk.
  • Modul 3: Adella Ika Nurhayati, S.Pd. (SLB Prayuwana) mendampingi guru mempraktikkan Google Gemini untuk merancang RPP dan modul ajar berdiferensiasi. Pemanfaatan AI ini membuktikan bahwa efisiensi administrasi guru dapat berjalan beriringan dengan perancangan pembelajaran yang inklusif dan memanusiakan siswa.

Memindai Kode, Berbagi Refleksi di Papan Padlet

Kelancaran seluruh rangkaian acara ini juga tidak lepas dari kerja kolektif tim pelaksana lintas sekolah, termasuk Iska Nurhaini, S.Pd (SLB Dharma Rena II). Usai ketiga modul tuntas dipaparkan, suasana berpindah ke sesi refleksi yang dipandu oleh Ihsanuddin, S.Kom. (SMPIT Abu Bakar Yogyakarta). Di layar utama, sebuah kode QR Padlet terpampang untuk dipindai secara langsung oleh para peserta.

Papan digital Padlet tersebut seketika dipenuhi catatan-catatan jujur dari para pendidik. Guru-guru menuangkan pengalaman barunya membuat prompt AI, kesadaran baru tentang pentingnya etika menjaga privasi murid, hingga komitmen untuk menjadi sosok orang dewasa yang aman diajak bercerita ketika murid menghadapi ancaman di dunia maya. Keberadaan Padlet menjembatani refleksi dua arah yang interaktif, terbuka, dan sarat empati.

Acara kemudian ditutup secara resmi oleh Maherlina Muna Ayuhana, M.Pd.I. dengan doa dan harapan agar jejaring perlindungan anak terus meluas.

Dari Sekolah, Menjaga Masa Depan Anak

Tantangan di ruang digital tidak mengenal sekat antarsekolah. Ketika bahaya siber terus berkembang, kolaborasi pendidik dari sekolah umum, madrasah, hingga sekolah luar biasa menjadi kekuatan penting dalam melindungi masa depan anak-anak.

Bagi keluarga besar SMPIT ABY dan para guru mitra di Yogyakarta, diseminasi ini bukan sekadar pelatihan teknologi. Dari sebuah ruang pertemuan di sekolah, kepedulian bersama disatukan. Dari keteladanan para guru, ruang digital yang aman dan bermartabat untuk anak Indonesia mulai diwujudkan. (Humas SMPIT ABY)