Siswa Kelas VII SMPIT Abu Bakar Yogyakarta Rampungkan Projek Lintas Mapel: “Harmoni Tanpa Ghibah”
Setelah lima hari penuh kreativitas dan pembelajaran mendalam, siswa kelas VII SMPIT Abu Bakar Yogyakarta sukses merampungkan Projek Lintas Mapel (PLM) bertema “Etika Digital: Harmoni Tanpa Ghibah dengan Budaya Tabayyun”. Kegiatan yang berlangsung dari Senin hingga Jumat, 2-6 Februari 2026 ini bertujuan membekali generasi muda dengan kecakapan beretika di era digital sekaligus menguatkan karakter sesuai nilai-nilai Islam.
Projek ini merupakan kolaborasi empat mata pelajaran sekaligus, yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI), Bahasa Arab, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa Indonesia. Melalui pendekatan lintas disiplin, para siswa diajak untuk memahami fenomena ghibah (membicarakan keburukan orang lain) di media sosial serta mempraktikkan budaya tabayyun (klarifikasi) sebagai solusi.
Koordinator PLM Kelas VII, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk mengasah berbagai kompetensi abad ke-21. “Kami ingin meningkatkan kemampuan komunikasi, berpikir kritis, kolaborasi, dan sikap saling menghargai perbedaan di kalangan siswa. Hal ini selaras dengan dimensi dan elemen dalam 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu bersikap jujur dan berintegritas, berkomunikasi secara efektif, bekerjasama dalam tim, serta berpikir kritis dan kreatif,” ujarnya.
Selama lima hari pelaksanaan, suasana belajar di kelas VII berubah menjadi ruang kreatif yang dinamis. Rangkaian kegiatan PLM dibagi menjadi tiga tahap utama:
Workshop Pembuatan Naskah (Senin-Selasa, 2-3 Februari): Pada tahap awal, siswa mendapatkan pendampingan dari guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk menulis naskah cerita pendek yang mengangkat tema etika digital. Mereka belajar merancang dialog, alur cerita, dan pesan moral tentang bahaya ghibah serta pentingnya tabayyun sebelum menyebarkan informasi. Guru PAI turut memberikan penguatan materi tentang larangan ghibah dalam perspektif Islam.
Produksi Video Berkelompok (Rabu-Kamis, 4-5 Februari): Memasuki tahap produksi, siswa bekerja dalam kelompok untuk mewujudkan naskah menjadi karya video pendek. Dengan bimbingan guru IPS yang memberikan wawasan tentang dampak sosial dari perilaku digital, serta guru Bahasa Arab untuk penyisipan kosakata dan nilai-nilai Islami, mereka berkolaborasi menjadi sutradara, kameramen, editor, dan aktor. Proses ini melatih kemampuan kerjasama dalam tim dan kreativitas mereka.
Presentasi dan Refleksi (Jumat, 6 Februari): Puncak kegiatan ditandai dengan presentasi hasil karya video di hadapan guru dan teman-teman sekelas. Setiap kelompok menayangkan video pendeknya, kemudian menjelaskan proses kreatif dan pesan yang ingin disampaikan. Sesi tanya jawab berlangsung hangat, melatih siswa untuk berkomunikasi secara efektif dan menghargai perbedaan pendapat. Momen refleksi di akhir kegiatan menjadi pengingat bagi seluruh siswa untuk menerapkan budaya tabayyun dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Salah satu siswa kelas VII mengaku senang dengan metode pembelajaran projek ini. “Seru sekali! Kita jadi belajar banyak hal sekaligus. Dari agama tahu bahwa ghibah itu dosa, terus dari Bahasa Indonesia belajar bikin cerita, dan kita juga bisa main peran di video. Pesannya jadi lebih masuk,” ungkapnya.
Kepala SMPIT Abu Bakar Yogyakarta mengapresiasi pelaksanaan PLM ini. Ia berharap melalui projek ini, para siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter kuat sebagai pengguna internet yang bertanggung jawab. “Kami ingin lulusan SMPIT Abu Bakar menjadi pribadi yang hebat, yang mampu menebarkan kebaikan dan harmoni, bukan sebaliknya. Semoga nilai-nilai tabayyun dan kejujuran ini terus melekat dalam diri mereka,” tutupnya.
Dengan berakhirnya projek ini, seluruh karya video siswa direncanakan akan ditayangkan dalam acara puncak bulanan sekolah sebagai kampanye positif tentang etika digital kepada seluruh warga sekolah.