Jum’at Demokrasi SMPIT ABY: Saat Siswa Belajar Memilih dan Memimpin

Jum’at Demokrasi SMPIT ABY: Saat Siswa Belajar Memilih dan Memimpin

Yogyakarta — Demokrasi tidak selalu harus dipelajari melalui buku dan teori. Di SMPIT Abu Bakar Yogyakarta, para siswa mendapat kesempatan untuk merasakan langsung bagaimana proses demokrasi berlangsung melalui Jum’at Demokrasi, sebuah agenda pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS (04/09).

Suasana sekolah pada Jumat itu menjadi lebih semarak. Para siswa tidak hanya hadir sebagai peserta didik, tetapi juga sebagai pemilih yang memiliki suara dan tanggung jawab untuk menentukan calon pemimpin organisasi siswa.

Enam pasangan calon hadir dalam kontestasi tahun ini. Mereka terbagi menjadi tiga pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS ikhwan serta tiga pasangan calon akwat.

Enam Pasangan, Enam Gagasan

Pada pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS ikhwan, terdapat tiga pasangan calon yang siap membawa gagasan mereka.

Pasangan nomor 1: Maher (8A) dan Abiya (7A)
Pasangan nomor 2: Rayyan (8C) dan Sin (7B)
Pasangan nomor 3: Adrian (8A) dan Haikal (8C)

Sementara itu, pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS akhwat diikuti oleh:

Pasangan nomor 1: Talitha (8G) dan Danisa (7F)
Pasangan nomor 2: Aqila (8F) dan Haniya (7J)
Pasangan nomor 3: Khansa (8H) dan Dinda (7G)

Setiap pasangan hadir dengan visi, gagasan, dan program yang mereka tawarkan kepada siswa dan siswi di sekolah. Perbedaan gagasan menjadi bagian dari proses belajar untuk memahami bahwa setiap calon memiliki cara pandang dan rencana yang berbeda dalam membawa OSIS ke depan.

Belajar Menjadi Pemilih

Bagi siswa-siswi SMPIT ABY, Jum’at Demokrasi bukan sekadar memilih nama yang akan menduduki posisi Ketua dan Wakil Ketua OSIS.

Di balik proses pemilihan, terdapat pembelajaran penting tentang bagaimana menentukan pilihan, mengenali calon, mempertimbangkan gagasan, serta menghargai pilihan teman yang mungkin berbeda.

Para calon pun mendapatkan pengalaman berharga. Mereka belajar menyampaikan gagasan di hadapan orang lain, membangun kepercayaan, bekerja sama dengan pasangan, sekaligus memahami bahwa menjadi pemimpin berarti siap menerima amanah dan menjalankan tanggung jawab.

Demokrasi di sekolah akhirnya bukan hanya tentang siapa yang terpilih, tetapi juga tentang bagaimana seluruh warga sekolah mengikuti prosesnya dengan jujur, tertib, dan saling menghargai.

Dari Sekolah, Belajar tentang Kehidupan

Pemilihan OSIS mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi siswa, pengalaman ini menjadi salah satu cara untuk mengenal kehidupan demokrasi sejak dini.

Ada keberanian ketika para calon menyampaikan gagasan. Ada tanggung jawab ketika siswa menentukan pilihan. Ada pula sikap lapang dada ketika harus menerima hasil.

Sebab, kepemimpinan tidak berhenti pada sebuah jabatan. Ia adalah tentang amanah, keteladanan, kerja sama, dan kesediaan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Melalui Jum’at Demokrasi, SMPIT Abu Bakar Yogyakarta tidak hanya mengajarkan siswa untuk memilih pemimpin, tetapi juga mengajak mereka belajar menjadi bagian dari komunitas yang mampu berpendapat, menghargai perbedaan, bertanggung jawab, dan siap memimpin maupun dipimpin.

Dari sekolah, demokrasi belajar tumbuh. Dari sebuah pilihan, karakter kepemimpinan mulai dibentuk. (Humas SMPIT ABY)

Add a Comment

Your email address will not be published.